Jenis Landasan Pembelajaran Terpadu

Jenis Landasan Pembelajaran Terpadu

Pada artikel ini kita akan mempelajari jenis-jenis landasan pembelajaran terpadu. Jenis pembelajaran terpadu paling banyak diterapkan pada kelas 1, 2, 3 SD.

 

Pembelajaran terpadu sendiri merupakan pendekatan pembelajaran yang menggabungkan/ menghubungkan materi pelajaran minimal 2 mata pelajaran menjadi 1 tema yang berkaitan.

 

Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman yang bermakna kepada siswa. Jenis-jenis landasan pembelajaran terpadu dibuat agar kelompok siswa aktif mencari, menggali, menemukan kaidah/konsep ilmiah secara holistik, otentik dan bermakna.

 

jenis landasan pembelajaran terpadu terintegrasi ini memberikan siswa pengalaman langsung dalam proses pembelajaran mereka.

 

Ada 3 model pembelajaran terpadu menurut hasil kajian Tim Pengembang PGSD (1997), yaitu model webbing (jaring laba-laba), model keterhubungan serta model keterpaduan (integrated).

Baca Juga:  Jika dibandingkan saat Ibu dan Bapak guru menjadi murid dahulu dan murid-murid sekarang, hal apa saja yang berbeda?

 

Pembelajaran terpadu dimulai dengan tema/ materi/ konsep tertentu kemudian dihubungkan dengan topik/ konsep lain, dilakukan secara spontan atau terencana, sehingga proses pembelajaran lebih bermakna. Berikut adalah jenis-jenis landasan pembelajaran terpadu:

 

Jenis landasan pembelajaran terpadu

  1. Landasan Filosofis

Landasan ini dipengaruhi oleh 3 aliran filsafat, yaitu: progresivisme, konstruktivisme, dan humanisme.

 

Proses pembelajaran aliran progresivisme menekankan pada pembentukan kreatifitas, memberikan sejumlah kegiatan, suasana alam dan pengalaman siswa.

 

Dalam aliran konstruktivisme pengalaman langsung siswa merupakan kunci belajar. Pengetahuan merupakan hasil konstruksi atau kreasi manusia.

 

Manusia membangun pengetahuannya dari interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman dan lingkungannya. Pengetahuan ditafsirkan oleh setiap siswa sendiri, tidak selalu dari guru.

Baca Juga:  Melakukan asesmen seperti yang dilakukan pada pertanyaan di atas adalah melakukan asesmen diagnostik. Tujuannya untuk mengetahui kelemahan dan kemampuan siswa. Terutama dalam penguasaan materi atau kompetensi tertentu. Juga untuk melihat penyebab kendala yang dihadapi siswa. Nantinya hasil asesmen diagnostik ini akan digunakan sebagai dasar untuk melakukan langkah tindak lanjut. Misalnya intervensi atau treatment sesuai dengan kelemahan yang dimiliki siswa. Karena tujuannya untuk membantu siswa, bukan untuk menguji apakah siswa lulus atau gagal. Asesmen diagnostik ini fleksibel dan akomodatif, tergantung kondisi masing-masing siswa. Bentuk penilaiannya bisa bermacam-macam, yang paling sederhana adalah pertanyaan berupa 'Respon Terpilih'. Fungsi penilaian diagnostik ini adalah untuk mengetahui masalah atau kesulitan apa yang dialami siswa dalam belajar. Selain itu, juga untuk membantu guru membuat rencana pembelajaran yang efisien. Karena informasi yang didapat dari penilaian ini akan berupa informasi tentang siswa, seperti masalah belajar, kelebihan, dan sejenisnya. Dari data yang diperoleh, guru dapat merancang dasar untuk metode pembelajaran selanjutnya. Juga tindakan atau kegiatan apa yang dapat membantu siswa mencapai target yang diharapkan.

 

Pengetahuan bukanlah produk jadi, melainkan proses yang terus berkembang. Keaktifan siswa menunjukkan keingintahuan mereka.

 

Ketiga, aliran humanisme memandang peserta didik dari segi keunikan/kekhasan, potensi, dan motivasi yang ada pada dirinya.

 

  1. Landasan Psikologis

Pembelajaran terpadu sangat erat kaitannya dengan psikologi perkembangan siswa dan psikologi belajarnya.

Pembinaan psikologis diperlukan dalam menentukan isi/materi pembelajaran terpadu bagi siswa agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahapan perkembangan siswa.

 

  1. Landasan Praktis

Landasan ini ada kaitannya dengan kondisi nyata yang biasa terjadi dalam proses pembelajaran, antara lain:

  • Perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat sehingga banyak informasi yang harus dimasukkan dalam kurikulum.
  • Semua pelajaran di sekolah diberikan secara terpisah satu sama lain. Pelajaran harus saling terkait.
  • Permasalahan yang muncul dalam pembelajaran (interdisipliner) sehingga diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai mata pelajaran untuk menyelesaikannya.
  • Kesenjangan antara teori dan praktik dapat ditutup dengan pembelajaran yang dirancang secara terpadu sehingga siswa mampu berpikir secara teoritis dan praktis secara bersamaan.
Baca Juga:  Bu alda akan melakukan tes untuk kemampuan menulis cerpen. Untuk tes tersebut, sebaiknya bu alda menggunakan instrumen asesmen

 

  1. Dasar Yuridis

Landasan yuridis (UU No. 23 Tahun 2002) tentang Perlindungan Anak menyatakan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadi dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya. Yayasan ini cocok untuk anak sekolah dasar.

 

Pasal 9 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional merupakan landasan bagi setiap peserta didik untuk mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.