Peran sultan syarif kasim 2 dalam mendukung pemerintah republik indonesia yang baru merdeka adalah

Peran sultan syarif kasim 2 dalam mendukung pemerintah republik indonesia yang baru merdeka adalah

Peran sultan syarif kasim 2 dalam mendukung pemerintah republik indonesia yang baru merdeka adalah

✅ Jawaban Terverifikasi Ahli

KLIK> LIHAT KUNCI JAWABAN

 

Jawaban

Dukungan Sultan Syarif Kasim II terhadap pemerintah Indonesia ditunjukkan dengan cara menyerahkan harta senilai 13 juta gulden untuk membantu perjuangan Indonesia.

 

Selain itu, Sultan Syarif Kasim II membentuk Komite Nasional Indonesia di Siak, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan Barisan Pemuda Republik. Ia juga mengibarkan bendera Merah Putih di lstana Kesultanan Siak dan mengajak raja-raja di Sumatra Timur untuk turut memihak Republik Indonesia.

 

Pada masa revolusi .kemerdekaan Sultan Syarif Kasim II aktif menyuplai bahan makanan dan kembali menyumbangkan hartanya untuk perjuangan pemerintah Indonesia di Yogyakarta.

 

Dengan demikian Sultan Syarif Kasim II terlibat aktif dalam upaya mempertahankan integrasi bangsa.

 

Pembahasn

Yang Dipertuan Besar Syarif Kasim Abdul Jalil Saifuddin atau Sultan Syarif Kasim II (lahir di Siak Sri Indrapura, Riau, 1 Desember 1893 – meninggal di Rumbai, Pekanbaru, Riau, 23 April 1968 pada umur 74 tahun) adalah sultan ke-12 Kesultanan Siak Sri Indrapura yang mendapat gelar/penghargaan sebagai Pahlawan Nasional (Keppres No. 109/TK/1998, tanggal 6 November 1998).

Trending:  Latihan guling lenting bagian tubuh yang di lentingkan adalah

 

Beliau dinobatkan sebagai sultan pada umur 21 tahun menggantikan ayahnya Sultan Syarif Hasyim. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan Kemerdekaan Indonesia, serta mendorong raja-raja di Sumatera Timur untuk mendukung dan mengintegrasikan diri dengan Republik Indonesia.

 

Tidak lama setelah proklamasi beliau menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan menyumbangkan harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk Pemerintah Republik Indonesia, setara dengan 214,5 juta gulden (tahun 2014) atau 120,1 juta USD atau Rp 1,47 trilyun.

 

MASA AWAL PEMERINTAHAN DAN PERJUANGAN

Saat Sayed Kasim berumur 16 tahun semasa masih menuntut ilmu di Batavia, ayahandanya Sultan Assyaidis Syarif Hasyim Abdul Djailil Syaifuddin meninggal dunia bertepatan tahun 1908. Oleh karena itu, Sayed Kasim tidak langsung dinobatkan sebagai raja menggantikan ayahndanya, maka untuk sementara waktu pemerintahan dipegang oleh dua orang pejabat yang mewakili raja yaitu Tengku Besar Sayed Syagaf dan Datuk Lima Puluh selama 7 tahun.

Trending:  Makanan Yang Tidak Melalui Pencernaan Tetapi Langsung Diserap Usus Adalah

 

Sekembalinya dari Batavia pada 3 Maret 1915, dalam usia 21 tahun Sayed Kasim dinobatkan menjadi Sultan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang ke-12 dengan gelar Sultan Asysyaidis Syarif Kasim Abdul DJalil Syaifuddin.

 

Di masa pemerintahan ayahandanya Sultan Sayed Hasyim (Sultan Siak ke-11), dalam melaksanakan pemerintahannya, baginda dibantu oleh Dewan Menteri atau Dewan Kerajaan. Dewan inilah yang memilih dan mengangkat sultan.

 

Dewan ini bersama sultan membuat undang-undang dan peraturan. Dewan itu terdiri dari Datuk-datuk Empat Suku, yaitu Datuk Tanah Datar Sri Pakermaraja, Datuk Limapuluh Sri Bijuangsa, Datuk Pesisir Sri Dewaraja dan Datuk Kampar Maharaja Sri Wangsa.

 

Kekhawatiran Hindia Belanda timbul karena pewaris kerajaan adalah orang yang berpendidikan dan progresif. Oleh karena itu, sebenarnya pengangkatan Sultan Syarif Kasim II kurang disenangi oleh pemerintah Hindia Belanda. Akan tetapi, Datuk Empat Suku yang merupakan Dewan Kerajaan tetap menghendaki Sayed Kasim menjadi sultan. Akibatnya Hindia Belanda mulai mengecilkan arti dan fungsi Dewan Kerajaan dan kemudian akhirnya Dewan Kerajaan dihapuskan oleh pemerintahan Hindia Belanda.

Trending:  Peryantaan berikut yang benar tentang sifat kutub magnet adalah

 

Undang-Undang Kerajaan dan Tata Pemerintahan Kerajaan Siak yang tertuang dalam Babul Kawaid, yang merupakan pedoman sepuluh provinsi Kerajaan Siak semenjak kepemimpinan ayahandanya tersebut dihapus oleh pemerintah Hindia Belanda. Sultan Siak tidak menerima perubahan yang diusulkan Hindia Belanda karena hal ini dirasakan bahwa Hindia Belanda terlalu banyak mencampuri urusan kerajaan.

 

Pemaksaan dan tekanan yang terus-menerus dilakukan Hindia Belanda akhirnya membuahkan hasil, sehingga struktur pemerintahan di daerah-daerah dapat diubah Hindia Belanda dari bentuk provinsi menjadi district dan onder district. Selanjutnya Kerajaan Siak terdiri dari 5 distrik, yaitu Distrik Siak, Distrik Selatpanjang, Distrik Bagansiapi-api, Distrik Bukit Batu dan Distrik Pekanbaru.

Trending:  Sebuah Lapangan Berbentuk Lingkaran Memiliki Keliling 88 M, Tentukan

 

Setelah Datuk Empat Suku tidak berfungsi lagi, penghasilan hutan tanah yang disebut “pancung alas” tidak boleh lagi dipungut. Dari hari ke hari tekanan oleh pihak Hindia Belanda semakin terasa dan meresahkan rakyat.

 

Sultan Syarif Kasim II semakin menentang Hindia Belanda dan memandang perlu membangun kekuatan fisik, karena ancaman Hindia Belanda tidak dapat dielakkan lagi. Sultan membangun kekuatan militer yang berawal dari barisan kehormatan pemuda-pemuda. Dilatih untuk membangkitkan semangat perlawanan dan mempertahankan diri serta membela nasib rakyat.

 

Sultan Syarif Kasim II menolak campur tangan peraturan pengadilan pemerintahan Hindia Belanda terhadap rakyatnya dan tetap mempertahankan keberadaan Kerapatan Tinggi Kerajaan Siak yang diatur dan disusun oleh Kerajaan Siak sendiri.

 

Sultan Syarif Kasim II dengan tegas juga menolak mengakui Kesultanan Siak sebagai bagian dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, meskipun para sultan pendahulunya telah terikat perjanjian dengan Hindia Belanda, termasuk Perjanjian London 1824.

Trending:  Energi yang dipancarkan matahari berasal dari reaksi fusi unsur

 

Perlawanan sultan membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda mendatangkan bala bantuan Marsose dari Medan dibawah pimpinan Letnan Leiner.

 

Dalam menentang penjajahan Hindia Belanda, Sultan Syarif Kasim II memandang kekuatan fisik harus diimbangi dengan kekuatan pembinaan mental dan pendidikan rakyat. Untuk itulah didirikan sekolah bagi anak negeri dan memberikan beasiswa kepada anak-anak yang berbakat di Kerajaan Siak Sri Indrapura.

 

Pada tahun 1917, dengan harta yang dimilikinya, Sultan Syarif Kasim II mendirikan Sekolah Agama Islam yang diberi nama Madrasah Taufiqiyah Al-Hasyimiah. Pada tahun 1926 Sultan dan Permaisuri Tengku Agung mendirikan sekolah untuk kaum wanita yang diberi nama Latifah School. Pendidikan dimaksud selain untuk menimba pengetahuan agama Islam, juga untuk menanamkan semangat kebangsaan, harga diri dan jiwa patriotisme.

 

Sekolah-sekolah yang didirikannya menggunakan bahasa pengantar Melayu dan Hindia Belanda. Dengan harta yang dimilikinya, sultan juga mengirimkan anak-anak Siak yang cerdas ke Batavia dan tempat lain untuk menuntut ilmu.